Kejeniusan Imam Bukhari
Bukhari diakui memiliki daya
hapal tinggi, yang diakui oleh
kakaknya Rasyid bin Ismail.
Kakak sang Imam ini
menuturkan, pernah Bukhari
muda dan beberapa murid
lainnya mengikuti kuliah dan
ceramah cendekiawan Balkh.
Tidak seperti murid lainnya,
Bukhari tidak pernah
membuat catatan kuliah. Ia
sering dicela membuang
waktu karena tidak mencatat,
namun Bukhari diam tak
menjawab. Suatu hari, karena
merasa kesal terhadap celaan
itu, Bukhari meminta kawan-
kawannya membawa catatan
mereka, kemudian beliau
membacakan secara tepat
apa yang pernah disampaikan
selama dalam kuliah dan
ceramah tersebut.
Tercenganglah mereka
semua, lantaran Bukhari
ternyata hafal di luar kepala
15.000 hadits, lengkap dengan
keterangan yang tidak sempat
mereka catat.
Ketika sedang berada di
Bagdad, Imam Bukhari pernah
didatangi oleh 10 orang ahli
hadits yang ingin menguji
ketinggian ilmu beliau. Dalam
pertemuan itu, 10 ulama
tersebut mengajukan 100 buah
hadits yang sengaja “diputar-
balikkan” untuk menguji
hafalan Imam Bukhari.
Ternyata hasilnya
mengagumkan. Imam Bukhari
mengulang kembali secara
tepat masing-masing hadits
yang salah tersebut, lalu
mengoreksi kesalahannya,
kemudian membacakan hadits
yang benarnya. Ia
menyebutkan seluruh hadits
yang salah tersebut di luar
kepala, secara urut, sesuai
dengan urutan penanya dan
urutan hadits yang
ditanyakan, kemudian
membetulkannya. Inilah yang
sangat luar biasa dari sang
Imam, karena beliau mampu
menghafal hanya dalam
waktu satu kali dengar.
Selain terkenal sebagai
seorang ahli hadits, Imam
Bukhari ternyata tidak
melupakan kegiatan lain,
yakni olahraga. Ia misalnya
sering belajar memanah
sampai mahir, sehingga
dikatakan sepanjang hidupnya,
sang Imam tidak pernah luput
dalam memanah kecuali
hanya dua kali. Keadaan itu
timbul sebagai pengamalan
sunnah Rasul yang mendorong
dan menganjurkan kaum
Muslimin belajar
menggunakan anak panah dan
alat-alat perang lainnya.
Karya-karya Imam Bukhari
Karyanya yang pertama
berjudul “Qudhaya as
Shahabah wat
Tabi ’ien” (Peristiwa-peristiwa
Hukum di zaman Sahabat dan
Tabi ’ien). Kitab ini ditulisnya
ketika masih berusia 18 tahun.
Ketika menginjak usia 22
tahun, Imam Bukhari
menunaikan ibadah haji ke
Tanah Suci bersama-sama
dengan ibu dan kakaknya
yang bernama Ahmad. Di
sanalah beliau menulis kitab
“ At-Tarikh” (sejarah) yang
terkenal itu. Beliau pernah
berkata, “Saya menulis buku
“At-Tarikh” di atas makam
Nabi Muhammad SAW di
waktu malam bulan
purnama ”.
Karya Imam Bukhari lainnya
antara lain adalah kitab Al-
Jami ’ ash Shahih, Al-Adab al
Mufrad, At Tharikh as Shaghir,
At Tarikh Al Awsat, At Tarikh
al Kabir, At Tafsir Al Kabir, Al
Musnad al Kabir, Kitab al ‘Ilal,
Raf’ul Yadain fis Salah, Birrul
Walidain, Kitab Ad Du’afa,
Asami As Sahabah dan Al
Hibah. Diantara semua
karyanya tersebut, yang
paling monumental adalah
kitab Al-Jami ’ as-Shahih yang
lebih dikenal dengan nama
Shahih Bukhari.
Dalam sebuah riwayat
diceritakan, Imam Bukhari
berkata: “Aku bermimpi
melihat Rasulullah saw.,
seolah-olah aku berdiri di
hadapannya, sambil
memegang kipas yang
kupergunakan untuk
menjaganya. Kemudian aku
tanyakan mimpi itu kepada
sebagian ahli ta ’bir, ia
menjelaskan bahwa aku akan
menghancurkan dan mengikis
habis kebohongan dari hadits-
hadits Rasulullah saw. Mimpi
inilah, antara lain, yang
mendorongku untuk
melahirkan kitab Al-Jami’ As-
Sahih.”
Dalam menghimpun hadits-
hadits shahih dalam kitabnya
tersebut, Imam Bukhari
menggunakan kaidah-kaidah
penelitian secara ilmiah dan
sah yang menyebabkan
keshahihan hadits-haditsnya
dapat
dipertanggungjawabkan. Ia
berusaha dengan sungguh-
sungguh untuk meneliti dan
menyelidiki keadaan para
perawi, serta memperoleh
secara pasti kesahihan hadits-
hadits yang diriwayatkannya.
Imam Bukhari senantiasa
membandingkan hadits-hadits
yang diriwayatkan, satu
dengan lainnya, menyaringnya
dan memilih mana yang
menurutnya paling shahih.
Sehingga kitabnya merupakan
batu uji dan penyaring bagi
hadits-hadits tersebut. Hal ini
tercermin dari perkataannya:
“ Aku susun kitab Al Jami’ ini
yang dipilih dari 600.000 hadits
selama 16 tahun. ”
Banyak para ahli hadits yang
berguru kepadanya,
diantaranya adalah Syekh Abu
Zahrah, Abu Hatim Tirmidzi,
Muhammad Ibn Nasr dan
Imam Muslim bin Al Hajjaj
(pengarang kitab Shahih
Muslim). Imam Muslim
menceritakan : “Ketika
Muhammad bin Ismail (Imam
Bukhari) datang ke Naisabur,
aku tidak pernah melihat
seorang kepala daerah, para
ulama dan penduduk Naisabur
yang memberikan sambutan
seperti apa yang mereka
berikan kepadanya. ” Mereka
menyambut kedatangannya
dari luar kota sejauh dua atau
tiga marhalah (100 km),
sampai-sampai Muhammad bin
Yahya Az Zihli (guru Imam
Bukhari) berkata : “Barang
siapa hendak menyambut
kedatangan Muhammad bin
Ismail besok pagi, lakukanlah,
sebab aku sendiri akan ikut
menyambutnya. ”
Labels : Cerita Hikmah Pasar Batik Murah Solo Batik Cinta IBU

0 komentar:
Posting Komentar